![]() |
| Foto: Ilustrasi Karyawan Swasta Menghitung Gaji (Gemini AI) |
krwdaily - Upah minimum provinsi (UMP) memang mengalami kenaikan setiap tahun. Hal ini membuat upah minimum disesuaikan, perusahaan melakukan penyesuaian pendapatan, dan sebagian pekerja memperoleh kenaikan gaji seiring bertambahnya pengalaman dan tanggung jawab.
Namun, kenaikan pendapatan tidak selalu membuat kehidupan rumah tangga terasa lebih ringan. Bagi sebagian pekerja, gaji yang diterima setiap bulan justru semakin cepat habis untuk membayar kebutuhan dasar. Setelah makanan, tempat tinggal, transportasi, listrik, pendidikan, kesehatan, dan cicilan terpenuhi, hampir tidak ada lagi ruang untuk menabung.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan gaji bukan lagi berarti memiliki uang lebih banyak, melainkan sekadar mampu mempertahankan kehidupan seperti sebelumnya.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan upah secara nominal memang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Namun, setelah memperhitungkan inflasi, pertumbuhan upah riil sejak sekitar 2018 hingga 2025 relatif tipis. Bahkan, sebagian pekerja dengan keahlian menengah dan tinggi mengalami tekanan terhadap daya beli riil.
“Setelah memperhitungkan inflasi, pertumbuhan upah riil sejak sekitar 2018 hingga 2025 relatif tipis. Bahkan, pada sebagian pekerja dengan keahlian menengah dan tinggi, daya beli riil justru mengalami tekanan,” kata Yusuf dilansir dari beritasatu.com.
Artinya, angka yang terlihat dalam slip gaji belum tentu menggambarkan peningkatan kemampuan ekonomi seseorang.
Jika gaji naik, tetapi harga kebutuhan yang harus dibayar juga meningkat, tambahan pendapatan tersebut dapat habis hanya untuk mempertahankan pola konsumsi yang sama.
Bukan Hanya Soal Inflasi
Tekanan daya beli juga tidak hanya ditentukan oleh angka inflasi secara umum. Kenaikan harga pangan, perumahan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan dapat terasa lebih berat karena sebagian besar pengeluaran tersebut sulit dihindari.
Setiap keluarga juga memiliki beban yang berbeda. Keluarga dengan anak, misalnya, harus menyediakan biaya pendidikan dan kesehatan. Pekerja yang tinggal jauh dari tempat kerja harus mengeluarkan biaya transportasi lebih besar. Sementara itu, mereka yang memiliki cicilan harus menyisihkan pendapatan untuk kewajiban pembayaran setiap bulan.
Ketika biaya tersebut meningkat, ruang untuk pengeluaran lain otomatis menyempit. Masyarakat kemudian mulai melakukan penyesuaian. Makan di luar dikurangi, liburan ditunda, pembelian barang baru ditangguhkan, dan pengeluaran yang dianggap tidak mendesak dipangkas.
Namun, jika tekanan semakin besar, penghematan dapat mulai menyentuh tabungan. Uang yang seharusnya disimpan untuk masa depan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari ini.
Ketika Gaji Habis untuk Bertahan
Perencana Keuangan Mike Rini mengatakan ketika seluruh penghasilan habis untuk kebutuhan sehari-hari, seseorang berada dalam kondisi yang lebih dekat dengan tahap survival.
Kenaikan harga transportasi, pangan, listrik, dan gas dapat mengurangi sisa pendapatan yang sebelumnya dialokasikan untuk tabungan.
“Begitu gaji diterima, pendapatan dapat langsung dibagi ke sejumlah pos, seperti kebutuhan hidup, cicilan, dan tabungan. Dengan pola tersebut, tabungan tidak lagi bergantung pada sisa uang di akhir bulan,” jelas Mike.
Menurutnya, masyarakat dapat menggunakan metode amplop atau fitur kantong pada layanan perbankan digital untuk memisahkan uang berdasarkan kebutuhan.
Namun, persoalan pengelolaan keuangan tidak bisa sepenuhnya menutupi masalah ketika pendapatan memang terlalu sempit dibandingkan kebutuhan.
Pada titik tertentu, seseorang bukan lagi memilih antara menabung atau berbelanja, melainkan menentukan kebutuhan mana yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
Tabungan Menjadi Korban Pertama
Dalam situasi seperti itu, tabungan sering menjadi pos pertama yang dikorbankan. Penghasilan yang sebelumnya masih dapat dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, cicilan, tabungan, dan rekreasi perlahan hanya cukup untuk kebutuhan wajib.
Dana darurat tidak bertambah. Investasi ditunda. Rekreasi dikurangi. Pembelian barang bernilai besar ditangguhkan.
Bahkan, jika kondisi berlangsung lama, tabungan yang sudah ada dapat ikut digunakan untuk menutup kebutuhan bulanan. Inilah yang membuat tekanan daya beli menjadi persoalan serius.
Seseorang mungkin masih terlihat memiliki pekerjaan dan menerima gaji setiap bulan. Namun, ketahanan finansialnya semakin menurun.
Menabung Tetap Penting
Meski demikian, Mike menyarankan masyarakat tetap berusaha menyisihkan sebagian pendapatan, meskipun nominalnya kecil. Konsep micro saving dapat menjadi salah satu cara dengan menabung secara rutin setiap hari atau setiap pekan.
“Yang lebih penting adalah memastikan sebagian pendapatan disisihkan secara konsisten sebelum seluruh penghasilan habis untuk kebutuhan bulanan,” tutur dia.
Langkah tersebut setidaknya dapat membangun kebiasaan sekaligus menciptakan bantalan keuangan. Namun, dalam jangka panjang, persoalan daya beli tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat lebih disiplin mengatur uang.
Pekerjaan Berkualitas Jadi Kunci
Yusuf menilai persoalan daya beli juga berkaitan erat dengan kualitas pekerjaan. Ketersediaan pekerjaan formal berkualitas yang mampu menopang standar hidup kelas menengah belum tumbuh cukup kuat. Karena itu, solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan menaikkan upah nominal.
“Jadi, solusi jangka panjangnya bukan hanya menaikkan upah nominal, tetapi juga menciptakan lebih banyak pekerjaan formal yang produktif, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan menjaga agar biaya kebutuhan dasar tidak tumbuh jauh lebih cepat,” pungkas Yusuf.
Dengan demikian, kenaikan gaji baru benar-benar meningkatkan kesejahteraan apabila pendapatan tersebut mampu memberikan ruang lebih besar bagi rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan, menabung, dan mempersiapkan masa depan.
Jika seluruh kenaikan pendapatan habis untuk mengejar kenaikan biaya hidup, masyarakat sebenarnya tidak sedang menjadi lebih sejahtera. Mereka hanya berusaha bertahan dengan standar hidup yang sama.
Ketika satu penghasilan harus digunakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membiayai anak dan membantu orang tua, tekanan tersebut menjadi jauh lebih berat. (*)
