![]() |
| Foto: Ilustrasi sound horeg yang digandrungi masyarakat setempat. (Gemini AI) |
krwdaily — Fenomena sound horeg kembali menjadi perhatian publik. Dentuman musik dengan intensitas suara sangat tinggi memang menjadi daya tarik dalam hiburan rakyat. Namun, di balik kemeriahannya, paparan suara ekstrem dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan pendengaran.
Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga (Unair), dr Rosa Falerina SpTHT mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kesehatanpendengaran saat berada di sekitar lokasi sound horeg.
Menurut Rosa, intensitas suara sound horeg umumnya dapat mencapai lebih dari 120 desibel (dB). Tingkat kebisingan tersebut sangat tinggi dan berpotensi merusak organ pendengaran, terutama koklea atau rumah siput serta sel-sel rambut (outer hair cells) di dalam telinga.
"Suara yang sangat keras membuat sel rambut di dalam koklea bekerja ekstra hingga menjadi tidak bergerak atau tumbang seperti hutan yang gundul. Apabila sel-sel rambut ini rusak dan gugur, suara tidak akan memiliki jalan lagi untuk sampai ke otak," kata Rosa, Ahad (30/8/2026).
Salah satu tanda awal telinga mengalami gangguan akibat paparan suara keras adalah tinnitus atau telinga berdenging. Tinnitus setelah mendengar suara keras dapat menjadi alarm alami tubuh yang menunjukkan adanya gangguan pada sel rambut di telinga bagian dalam.
"Denging itu sinyal awal bahwa sel rambut luar sedang terganggu. Apabila terpaparnya singkat dan warga langsung menjauh, pendengaran masih bisa pulih. Namun, apabila terpapar lama dan berdengingnya menetap, gangguan pendengaran itu berisiko menjadi permanen," jelas dosen Fakultas Kedokteran Unair tersebut.
Paparan suara ekstrem tidak hanya berisiko menyebabkan gangguan pendengaran hingga tuli permanen. Dentuman sub-bass dengan frekuensi rendah juga dapat memengaruhi sistem keseimbangan tubuh.
Rosa menjelaskan, organ pendengaran dan sistem keseimbangan berada di bagian telinga dalam yang letaknya berdekatan. Getaran suara dengan intensitas ekstrem berpotensi mengganggu sistem tersebut hingga menimbulkan vertigo.
"Koklea itu bertetangga dengan sistem keseimbangan di telinga dalam. Dentuman yang sangat kuat tak hanya mengguncang rumah siput, tetapi juga menyenggol sistem keseimbangan sehingga memicu sensasi berputar atau vertigo," ungkap Rosa.
Ia juga mengaku pernah menangani pasien ibu dan anak yang mengalami penurunan pendengaran disertai denging berkepanjangan setelah sound horeg melintas di depan rumah mereka.
Menurut Rosa, semakin tinggi intensitas suara, semakin singkat pula waktu aman seseorang berada di lingkungan tersebut. Pada paparan suara di atas 120 desibel, batas paparan aman manusia hanya sekitar 3,5 detik per hari.
"Suara ekstrem tetap bisa masuk melalui hantaran tulang kepala. Oleh karena itu, cara paling efektif adalah menjaga jarak, membatasi durasi paparan, serta menjauhkan kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia dari lokasi sound horeg," pesannya. (*)
