Notification

×

Iklan

Iklan

Daya Beli Kian Tertekan, Masyarakat Mulai Gantungkan Kebutuhan Belanja pada Diskon

Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:04 WIB Last Updated 2026-08-18T06:23:18Z

Foto: Ilustrasi Masyarakat Berbelanja Barang Diskon (Gemini AI)

krwdaily - Pelemahan daya beli tidak selalu berarti masyarakat berhenti berbelanja. Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan, konsumen justru semakin selektif dalam mengeluarkan uang. Kebutuhan pokok tetap menjadi prioritas, sementara pembelian barang dan jasa non-esensial cenderung ditunda hingga muncul harga atau promosi yang dianggap lebih menguntungkan.


Perubahan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin sensitif terhadap harga (price-sensitive). Konsumen tidak sekadar mempertimbangkan apakah membutuhkan suatu barang, tetapi juga menimbang kapan waktu terbaik untuk membelinya, berapa besar diskon yang tersedia, hingga apakah manfaat barang tersebut sepadan dengan uang yang harus dikeluarkan.


Pengamat ekonomi sekaligus Dewan Penasehat Kadin Jawa Timur Jamhadi mengatakan, lesunya daya beli membuat masyarakat memilih menunggu diskon atau program potongan harga sebelum melakukan pembelian.


Menurut Jamhadi, masyarakat sebenarnya masih memiliki daya beli. Namun, porsi pendapatan yang dapat digunakan untuk kebutuhan di luar kebutuhan pokok semakin terbatas. Karena itu, konsumen semakin menerapkan skala prioritas dalam berbelanja.


"Masyarakat sebenarnya tidak sepenuhnya kehilangan daya beli, melainkan mengalami penurunan porsi pendapatan diskresioner (dana di luar kebutuhan pokok). Akibat keterbatasan ini, konsumen mengadopsi pola wait-and-see. Mereka menahan transaksi non-esensial sampai muncul insentif harga (promo/diskon) yang dianggap sepadan dengan nilai uang mereka (value for money)," ungkap Jamhadi dilansir dari beritasatu.com.


Menurut Jamhadi, pola belanja dengan menunggu diskon turut mengubah jumlah transaksi dan nilai belanja dibandingkan periode normal. Konsumen cenderung membeli barang dalam jumlah lebih kecil atau mengurangi pembelian barang pelengkap sehingga pembelian impulsif (impulse buying) ikut menurun.


"Frekuensi belanja barang non-pokok cenderung menurun atau tertahan di level moderat," imbuh Jamhadi.


Diskon Jadi Pemicu Transaksi


Jamhadi menjelaskan, diskon, cashback, cicilan, dan berbagai program promosi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan masyarakat dalam berbelanja. Promosi menjadi stimulus yang dapat mendorong konsumen merealisasikan pembelian yang sebelumnya ditunda.


Diskon langsung dan cashback, menurut Jamhadi, mampu mendongkrak volume transaksi harian sekitar 20%-50% selama periode kampanye seperti Harbolnas, payday sale, atau diskon pameran.


Namun, kenaikan transaksi ketika promosi berlangsung tidak selalu menunjukkan adanya peningkatan kemampuan belanja secara permanen. Sebagian transaksi merupakan pembelian yang sebelumnya telah ditunda dan baru direalisasikan ketika konsumen memperoleh insentif harga.


Sementara itu, cicilan 0% atau buy now pay later (BNPL) menjadi salah satu penopang pembelian barang bernilai lebih tinggi (durable goods), seperti elektronik, gawai, dan furnitur.


Skema tersebut memungkinkan konsumen menjaga arus kas bulanan ketika membeli barang dengan nilai relatif besar. Dengan demikian, keputusan pembelian tidak hanya ditentukan oleh harga barang, tetapi juga oleh kemampuan konsumen mengatur pembayaran dari waktu ke waktu.


Konsumen Mulai Turun Kelas


Perubahan perilaku juga terlihat dari kecenderungan konsumen berpindah merek. Masyarakat mulai mengurangi pembelian produk premium dan beralih ke produk dengan harga yang lebih terjangkau.


Jamhadi mengatakan perubahan tersebut menunjukkan terjadinya downtrading atau brand switching, ketika konsumen memilih produk dengan harga lebih rendah untuk menyesuaikan pengeluaran.


"Terjadi tren downtrading/brand switching secara masif. Konsumen beralih dari merek premium ke merek mid-tier, private label (merek internal ritel), atau produk lokal berkualitas setara yang harganya lebih ramah kantong demi menyesuaikan kemampuan finansial tanpa mengorbankan fungsi produk," jelasnya.


Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tekanan daya beli tidak selalu membuat masyarakat berhenti mengonsumsi. Konsumsi tetap berlangsung, tetapi terjadi perubahan dalam pilihan produk, merek, ukuran, frekuensi pembelian, maupun waktu pembelian.


Dengan kata lain, konsumen tetap membutuhkan barang dan jasa yang sama, tetapi berusaha mendapatkan manfaat yang sama dengan biaya yang lebih rendah.


Ritel Hadapi Konsumen yang Semakin Selektif


Perubahan pola konsumsi tersebut juga dirasakan industri pusat perbelanjaan. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, industri ritel menghadapi periode low season yang lebih panjang pada 2026. Kondisi itu membuat pelaku usaha perlu mencari momentum untuk menjaga penjualan.


Alphonzus sebelumnya mengatakan periode setelah Ramadan dan Idulfitri menjadi masa low season bagi industri ritel. Momentum libur panjang diharapkan dapat membantu mendorong kunjungan dan penjualan.


"Libur panjang pada saat low season tentunya diharapkan dapat mendorong penjualan sehingga dapat menopang ataupun mendukung kinerja sektor usaha ritel," kata Alphonzus.


Menurutnya, program promosi dan diskon menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan pelaku usaha untuk menyiasati persoalan daya beli masyarakat. Namun, efeknya tidak berlangsung permanen.


"Salah satu program untuk menyiasati masalah daya beli adalah dengan program promo belanja namun hanya bersifat sementara saja," katanya.


Artinya, promo dapat membantu pelaku usaha menciptakan momentum transaksi, tetapi tidak serta-merta mengubah kemampuan belanja konsumen dalam jangka panjang.


Peningkatan transaksi ketika promo digelar dapat menjadi pemicu bagi konsumen untuk merealisasikan pembelian yang sebelumnya ditunda. Setelah periode promosi berakhir, sebagian konsumen berpotensi kembali menahan pengeluaran dan menunggu momentum berikutnya.


Kondisi tersebut juga terlihat dari strategi industri ritel pada Agustus 2026. Sebanyak 407 pusat perbelanjaan mengikuti Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026 pada 7-23 Agustus dengan program diskon hingga 80%. Program tersebut ditujukan untuk mendorong konsumsi domestik di tengah periode low season.


Pameran dan promosi dapat menciptakan lonjakan transaksi karena konsumen mendapatkan alasan ekonomi untuk segera membeli. Barang yang sebelumnya hanya dilihat atau dimasukkan ke daftar keinginan dapat dibeli ketika harganya dianggap lebih sesuai dengan kemampuan.


Ketika Promo Berakhir, Belanja Kembali Ditahan


Jamhadi menambahkan, perubahan tersebut membuat konsumen semakin memperhitungkan setiap pengeluaran. Barang kebutuhan pokok tetap menjadi prioritas, sedangkan kebutuhan non-esensial cenderung ditunda.


Konsumen juga tidak hanya membandingkan harga antarproduk. Mereka mempertimbangkan merek, ukuran, manfaat, skema pembayaran, hingga besarnya potongan yang diberikan.


Karena itu, keramaian pusat perbelanjaan tidak selalu berarti seluruh pengunjung melakukan transaksi. Sebagian konsumen dapat datang untuk melihat produk, mencari informasi, membandingkan harga, atau menunggu momentum promosi yang dianggap paling menguntungkan.


Pada sisi lain, pelaku ritel harus terus menciptakan momentum untuk mengubah kunjungan menjadi transaksi. Diskon, cashback, pameran, program loyalitas, hingga cicilan menjadi instrumen yang digunakan untuk mendorong konsumen mengambil keputusan.


Namun, pola tersebut juga menunjukkan adanya ketergantungan terhadap stimulus harga. Ketika harga kembali normal dan promo berakhir, konsumen berpotensi kembali menunda pembelian.


"Pasar saat ini didominasi oleh promo-driven consumers. Begitu stimulus harga hilang, konsumen kembali ke mode saving atau sekadar melakukan riset harga hingga skema promo berikutnya muncul," tutup Jamhadi. (*)

×
Berita Terbaru Update